Kekejaman Kaum Komunis Bantai 120 Juta Manusia

Posted on Maret 12, 2016


kekejaman-komunisPasca Revolusi Bolshevik yang digerakkan kaum komunis di Rusia yang dipimpin Lenin (1917) hingga bubarnya Uni Soviet (1991), kaum komunis selalu membuat kekacauan dan berusaha melakukan pemberontakan dan perebutan kekuasaan termasuk di Indonesia sejak tahun 1926, 1948 dan tahun 1965 yang dikenal sebagai G30S/PKI.

Jung Chang dan Jon Halliday (Mao: The Unknown Story), Stephane Courtois (The Black Book of Communisme), James F Nihan (The Marxist Empire: Communist Dream – World Nightmare), Kitti Ratanachaya (The Communist Party of Malaya, Malaysia and Thailand), dan R.J. Rummel  (Death by Government), memaparkan fakta mencengangkan bahwa secara statistik matematis korban kekejaman ideologi komunis sungguh diluar perikemanusiaan dan begitu biadab.

Sepanjang 1917-1991 komunisme telah membantai 120 juta manusia, yang jika dirata-ratakan berarti tidak kurang dari 1.621.621 orang pertahun, dan berarti 4.504 sehari, 3 orang permenit, yang berarti pula tewas satu orang  setiap 20 detik. Aksi keji selama 74 tahun ini mereka lakukan di 75 negara.

Komunisme telah melancarkan kudeta di 75 negara, meliputi negara bagian, pulau dan kota selama 69 tahun sepanjang 1918-1987 dan sepanjang abad kedua puluh yang lalu berhasil mendirikan 28 negara komunis di dunia.

Ideologi yang Mengorbankan Rakyatnya Sendiri

Kita dapat saksikan betapa upaya kudeta dan berdirinya negara mereka tidak terlepas dari mengalirkan darah rakyat mereka sendiri dalam jumlah diluar nalar. Umpamanya, rezim Uni Soviet membantai habis-habisan rakyatnya hingga mencapai angka 61 juta jiwa. Dari sejumlah itu Stalin, penguasa Uni Soviet saat itu sekaligus guru besar komunisme di dunia, bertanggung jawab terhadap 43 juta jiwa yang diperkirakan sekitar 39 juta mati di kamp kerja paksa.

Begitupun yang terjadi di Kamboja, boleh dikatakan bahwa pembataian raksasa dan paling garang dalam sejarah dunia adalah Kamboja di bawah partai Khmer Rouge pimpinan Polpot yang dalam interval April 1975 sampai Desember 1978 telah membantai tidak kurang dari 2 juta yang berarti sekitar 28,57 % dari seluruh penduduknya yang hanya berjumlah 7 juta saja. Pembantaian yang mereka lakukan selama 44 bulan itu bila dirasiokan berarti 45.454 jiwa perbulan, atau 1.515 perhari dan 63 orang perjam, yang berarti pula satu nyawa lenyap permenit.

Sedangkan negeri tirai bambu, Cina, dibawah kepemmpinan Mao Tse-Tung dalam catatan sejarah rezim komunis mereka sepanjang 1947 sampai 1987 yang sering disebut Revolusi Kebudayaan, telah membunuh rakyatnya sendiri lebih dari 70 juta jiwa.

Oleh karena itu, jika kita telusuri korban komunisme dari 1917 sampai 1991yang telah membantai 120.000.000 jiwa, maka korban tersebut menjadi rekor pembantai di muka bumi ini. Padahal total korban seluruh perang dunia dan perang lokal pada abad kedua puluh saja hanya 38.000.000 jiwa. Dengan demikian, sepertiga orang yang meninggal itu sepertiganya adalah korban komunisme. Sehingga bisa dikatakan, korban nyawa akibat keganasan komunisme tiga kali lipat lebih banyak dari korban seluruh perang di dunia sejak perang dunia pertama, perang dunia kedua, perang Korea, Vietnam, Iraq, Afghanistan, Palestina, Libanon walau digabung menjadi satu.

Di samping korban jiwa, penduduk 28 negara komunis pun melarikan diri dari negara mereka sebagai pengungsi sebanyak 35 juta orang, karena kemelaratan dan tak tahan ditindas pada paruh 1917-1971.

Karena itu, empat algojo raksasa komunis adalah Lenin pada 1917-1923 yang telah membantai 500.000 jiwa, selanjutnya Stalin pada 1925-1953 yang telah membunuh 43 juta jiwa, kemudian Mao Tse-Tung pada 1947-1976 yang telah membinasakan tidak kurang dari 70 juta, dan Pol-Pot yang membantai rakyatnya pada 1975-1979 sebanyak 2 juta jiwa. Sebagian mereka yang meninggal ada juga yang dikarenakan kelaparan, kegagalan panen dan ekonomi. Namun, semuanya bermuara pada ideologi negaranya yang berpaham komunisme.

Mungkin juga tak jarang orang tidak mengetahui bahwa Adolf Hitler, penguasa Nazi Jerman, sejatinya pengagum Josef Stalin dan iapun mengaku berguru dari Stalin, sehingga pantas jika Hitler pun membantai 25.600.000 jiwa pada Perang I dan II yang lalu.

Kekejaman demi kekejaman yang dilakukan rezim komunisme umumnya tidak lepas dari karya dua anak muda Jerman, yaitu Karl Marx (30 tahun) dan Friedrich Engels (28 tahun) yang menerbitkan buku Manifesto Komunis pada 1848. Mereka menulis dengan terang-terangan bahwa tujuan ideologi mereka adalah merebut kekuasaan dengan kekerasan. Tetapi partai komunisme di seluruh dunia menutupi hal ini, berdusta, dan menggantinya dengan istilah muluk-muluk.

Mewaspadai Kebangkitan Komunis di Indonesia

Walau akhirnya 28 negara sosialis-komunis itu pada umumnya pada tahun 1991 bubarkarena terbukti telah gagal memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya, namun kita harus selalu waspada terhadap upaya-upaya pendukung-pendukung fanatiknya untuk bangkit kembali, temasuk di negara kita Indonesia ini.

Di negeri ini ketika kran demokrasi dibuka tanpa batas, dan cenderung keblablasan, kebangkitan komunis (PKI) mulai menemui momentum paling tepat untuk bangkit kembali. Dimulai dengan gerakan-gerakan demontrasi buruh dan advokasi terhadap korban-korban kekejaman para pemilik modal atau kekurang ajaran majikan, maka gerakan mereka menuai simpati masyarakat yang cukup signifikan.

Sehingga, tidak heran bila kampanye mereka dengan berbagai media, baik yang terang-terangan seperti buku “Aku Bangga Menjadi Anak PKI” maupun yang terselubung seperti penetrasi aktivitas mereka di bawah partai-partai politik, kian hari semakin menuai hasil yang cukup memuaskan mereka. Tidak sedikit kader-kader mereka hari ini menjabat wakil-wakil rakyat di DPR RI ataupun beberapa DPRD tingkat I dan II di pelbagai provinsi dan kota/ kabupaten.

Kita pun harus selalu waspada akan upaya-upaya mereka untuk melikuidasi Tap MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 tentang Pembubaran PKI dan Larangan Penyebaran Ajaran Komunisme/Marxisme dan Leninisme. Sebab jika para PKI baru tersebut berhasil menghapuskan dan mencabutnya dari lembaran negara, maka akan memiliki beberapa konsekwensi.

Pertama, dalam G30S/PKI, sesungguhnya PKI tidak bersalah. Adapun yang bersalah adalah TNI dan umat Islam. Kedua, mereka pasti akan meminta kompensasi dari Pemerintah, dimana besarnya mencapai Rp 2,5 miliar per orang. Ketiga, mereka akan memiliki hak eksistensi, sehingga nantinya PKI akan dapat mengikuti Pemilu dan menjadi partai yang sah kembali di NKRI. Na’udzubillaahi min dzalik. Kita tentu tak ingin tragedi berdarah akibat kekejaman kaum komunis ini terjadi kembali bukan? (ez/berbagai sumber)

Posted in: Ragam Berita