Dr. Maurice Bucaille : Kontradiksi Penciptaan Alam dengan Al Kitab (Bibel)

Posted on Januari 12, 2010


Sekedar Mengemukakan Fakta

Dengan  memakai  logika, orang dapat menunjukkan banyak kontradiksi dan   kekeliruan dalam Bibel. Adanya sumber-sumber yang  berlainan telah menyebabkan adanya versi yang berlainan mengenai sesuatu  hikayat. Tetapi di  samping itu kita dapatkan bermacam-macam perubahan, bermacam-macam  tambahan.  Pada  mulanya  tambahan  itu sebagai  tafsiran,  tetapi  kemudian  naskah asli dan tafsiran disalin lagi dan semua isinya  dianggap  asli. Semua  ini  sudah diketahui oleh ahli-ahli kritik teks, dan mereka kemukakan secara jujur.

Mengenai Taurah, R.P. de Vaux dalam bukunya:  Pengantar Umum   (Introduction  Generale) yang ditulis sebelum menterjemahkan Taurah telah menunjukkan  bermacam-macam kepincangan  yang  tak  perlu  lagi saya ulangi di sini karena  banyak  lagi  yang  akan  saya  sebutkan  dalam penyelidikan  ini.  Kesimpulan  dari  semua  itu adalah bahwa kita tidak boleh memahami teks-teks Taurah secara harafiah.

Sebagaimana yang telah dikatakan oleh R. P. de Vaux,  Kitab Kejadian bermula dari sebuah riwayat mengenai penciptaan alam. Riwayat ini merupakan contoh yang sangat menonjol  tentang ketidaktepatan  ilmiah. Kita  perlu melakukan  kritik  sebaris demi sebaris. Teks yang kita muat di sini adalah  teks  menurut  terjemahan Lembaga Bibel Yerusalem, (Ecole Biblique de Yerusalem). Dalam bahasa Indonesia, diambil dari Al Kitab cetakan Lembaga Alkitab Indonesia tahun 1962. (Rasjidi).

Fasal I, ayat 1 dan 2,

1.        “Bahwa pada mula pertama dijadikan Allah akan langit  dan bumi.

2.        Maka bumi itu lagi campur baur adanya, yaitu suatu  hal yang ketutupan kelam kabut; maka Roh Allah melayang-layang diatas muka air itu.”

Kita  dapat  menerima  bahwa  pada  tahap  bumi   belum diciptakan,  apa  yang  kemudian menjadi alam yang kita ketahui sekarang masih tenggelam dalam kegelapan,  akan tetapi  tersebutnya  adanya  air  pada periode tersebut hanya merupakan alegori (kiasan) belaka mungkin  sekali ini  adalah  terjemahan  suatu mitos. Kita akan melihat dalam bagian ketiga dari  buku  ini  bahwa  pada  tahap permulaan  dari  terciptanya  alam yang terdapat adalah gas.  Maka  disebutkannya  air  di  situ  adalah  suatu kekeliruan.

Ayat 3  sampai 5

3.  “Maka firman Allah: Hendaklah ada terang. Lalu  terangpun jadilah.

4.  Maka dilihat Allah akan terang itu baiklah adanya, lalu diceraikan Allah terang   itu dengan gelap.

5.   Maka dinamai Allah akan terang itu siang dan akan  gelap itu malam. Setelah petang dan pagi, maka itulah hari yang pertama.”

Cahaya yang menerangi alam adalah hasil daripada reaksi kompleks  yang  terjadi  pada  bintang-bintang. Pada  tahap  penciptaan  alam yang kita bicarakan sekarang, menurut   Bibel, bintang-bintang belum diciptakan,  karena  sinar  di  langit  baru disebutkan dalam  ayat  14  dari  Kitab  Kejadian,  yaitu  sebagai ciptaan pada  hari keempat,  untuk “memisahkan siang daripada malam,” “untuk menerangi bumi.” Dan ini  semua betul. Tetapi adalah tidak logis untuk menyebutkan efek (sinar)  pada  hari   pertama, dengan menempatkan penciptaan benda yang menyebabkan sinar (bintang-bintang)  tiga  hari  sesudah  itu. Lagipula menempatkan malam dan  pagi  pada hari pertama adalah alegori (kiasan) semata-mata, karena malam dan  pagi sebagai  unsur hari tak dapat  digambarkan  kecuali sesudah terwujudnya bumi dan beredarnya di bawah  sinar planetnya yaitu matahari.

Ayat 6 sampai 8

6.  Maka firman Allah: Hendaklah ada suatu bentangan pada sama tengah air itu supaya diceraikan dengan air.

7.  Maka dijadikan Allah akan bentangan itu serta diceraikanlah air yang di bawah bentangan itu dengan air yang di atas bentangan. Maka jadilah demikian.

8. Lalu dinamai Allah akan bentangan itu langit. Setelah petang dan pagi, maka itulah hari yang kedua.”
Mitos air diteruskan dalam  ayat-ayat  tersebut  dengan memisahkan air menjadi dua lapisan, di tengahnya adalah langit. Dalam  riwayat   Banjir   Nabi   Nuh,   langit membiarkan  air menanjak, dan air itu kemudian jatuh ke tanah. Gambaran bahwa air terbagi menjadi dua  kelompok tak dapat diterima secara ilmiah.

Ayat 9 sampai 13

9. “Maka firman Allah: Hendaklah segala air yang di  bawah langit itu berhimpun kepada satu tempat, supaya kelihatan yang kekeringan itu; maka jadilah demikian.

10. Lalu dinamai Allah akan yang kekeringan itu darat, dan akan perhimpunan  segala air itu dinamainya laut; maka dilihat Allah itu baiklah adanya.

11. Maka firman Allah: Hendaklah bumi itu menumbuhkan rumput dan pokok yang berbiji dan pohon yang berbuah-buah dengan tabiatnya yang berbiji dalamnya di atas bumi itu; maka jadilah demikian.

12. Yaitu ditumbuhkan bumi akan rumput dan pokok yang berbiji dengan  tabiatnya dan pohon-pohon yang berbuah-buah yang berbiji dalamnya dengan tabiatnya; maka dilihat Allah itu baiklah adanya

13.   Setelah petang dan pagi, maka itulah hari yang ketiga.”

Fakta bahwa pada  suatu  periode  dalam  sejarah  bumi, ketika  bumi  ini  masih  tertutup  dengan air, terjadi bahwa daratan-daratan mulai muncul,  adalah  suatu  hal yang  dapat diterima secara ilmiah. Akan tetapi bahwa pohon yang  mengandung  biji-biji  bermunculan  sebelum terciptanya matahari (yang menurut Kitab Kejadian, baru tercipta pada hari keempat), dan juga bahwa  siang  dan malam  silih berganti sebelum terciptanya matahari, hal tersebut sama sekali tak dapat dipertahankan.

Ayat 14 sampai 19

14. “Maka firman Allah: Hendaklah ada beberapa benda terang dalam bentangan langit supaya diceraikannya siang dengan malam dan menjadi tanda dan ketentuan masa dan hari dari tahun.

15. Dan supaya ia itu menjadi benda terang pada bentangan langit akan menerangkan bumi; maka jadilah demikian.

16.  Maka dijadikan Allah akan kedua benda terang yang besar itu, yaitu terang yang besar itu akan memerintahkan siang dan terang yang kecil akan   memerintahkan malam, dan lagi segala bintang pun.

17. Maka ditaruh Allah akan dia dalam bentangan langit akan memberi terang di atas bumi.

18. Dan akan memerintahkan siang dan malam dan akan menceraikan terang itu dengan gelap maka dilihat Allah itu baik adanya.

19. Setelah petang dan pagi maka itulah hari yang ke empat.”

Di sini gambaran yang diberikan oleh pengarang  Injil dapat diterima. Satu-satunya  kritik  yang dapat kita lemparkan terhadap ayat-ayat tersebut adalah tempat dan letaknya dalam hikayat penciptaan alam seluruhnya. Bumi dan bulan  telah  memisahkan  diri  daripada  matahari; menempatkan  penciptaan  matahari  dan  bulan  sesudah penciptaan bumi adalah bertentangan dengan hal-hal yang sudah  disetujui  secara  pasti  dalam ilmu pengetahuan mengenai tersusunnya alam bintang-bintang.

Ayat 20 sampai 23

20. “Maka firman Allah: Hendaklah dalam segala air itu menggeriak beberapa kejadian yang bernyawa dan yang sulur menyulur, dan hendaklah ada unggas terbang di atas bumi dalam bentangan langit.

21. Maka dijadikan Allah akan ikan raya yang besar-besar dan segala binatang sulur menyulur yang menggeriak dalam air itu tetap dengan tabiatnya, dan    segala unggas yang bersayap dengan tabiatnya, maka dilihat Allah itu baik adanya.

22. Maka diberkati Allah akan dia, firmannya: Jadilah biak dan bertambah kamu   dan damaikanlah air yang di  dalam laut itu dan hendaklah segala unggas itupun bertambah-tambah di atas bumi.

23. Setelah petang dan pagi maka itulah hari yang  kelima.”

Ayat-ayat tersebut mengandung hal-hal  yang  tak  dapat diterima Timbulnya  binatang-binatang, menurut Kitab Kejadian, bermula dengan    binatang-binatang laut dan burung-burung.  Menurut  Bibel,  adalah pada  hari keesokannya bahwa bumi  dihuni  oleh  binatang-binatang (kita akan melihatnya dalam ayat-ayat selanjutnya);  Sudah  jelas  bahwa asal kehidupan itu dari laut. Setelah adanya kehidupan di laut, daratan  dihuni  oleh  binatang-binatang. Di antara binatang-binatang  yang  hidup  diatas  bumi, ada suatu jenis reptil (binatang melata)  yang  dinamakan  pseudo suchiens   yang  hidup  pada  periode  kedua  dan  yang dikirakan  menjadi   asal   burung-burung. Beberapa sifat-sifat biologis yang bersamaan menguatkan sangkaan ini. Tetapi binatang-binatang  darat  tidak  disebutkan oleh Kitab Kejadian, kecuali pada hari ke enam, setelah munculnya burung-burung, oleh karena  itu  maka  urutan munculnya  binatang  darat  dan burung-burung tak dapat diterima.

Ayat 24 sampai 31

24. “Maka firman Allah: hendaklah bumi itu mengeluarkan  kejadian yang hidup dengan tabiatnya yaitu daripada yang jinak dan yang menjalar dan yang liar, tiap-tiap dengan tabiatnya, maka jadilah demikian.

25. Maka dijadikan Allah akan segala binatang yang liar di atas bumi itu dengan tabiatnya, dan segala binatang yang jinak pun dengan tabiatnya dan segala binatang  yang menjalar di atas bumipun dengan tabiatnya, maka dilihat Allah itu baiklah adanya.

26. Maka firman Allah: Baiklah kita menjadikan manusia atas peta dan atas teladan kita supaya diperintahkannya segala ikan yang di dalam laut dan segala unggas yang di udara dan segala binatang yang jinak dan seisi bumi dan segala binatang melata yang menjalar di tanah.

27. Maka dijadikan Allah akan manusia itu atas petanya yaitu atas peta Allah dijadikannya ia, maka dijadikannya mereka itu laki-laki dan perempuan.

28. Maka diberkati Allah akan keduanya serta firmannya  kepadanya: berbiaklah dan bertambah-tambahlah kamu dan penuhilah olehmu akan bumi itu dan taklukkanlah dia, dan perintahkanlah segala ikan yang di dalam laut dan segala unggas yang di udara dan segala binatang yang menjalar di atas bumi.

29. Lagi firman Allah: bahwa sesungguhnya Aku telah memberikan kamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji-biji di atas seluruh muka bumi dan segala pohon  yang berbuah dengan berbiji itu akan makananmu.

30. Tetapi akan segala binatang liar yang di bumi dan segala binatang yang menjalar di atas bumi, yang ada nyawa hidup dalamnya, maka Aku mengaruniakan segala tumbuh-tumbuhan yang hijau akan makanannya maka jadilah demikian.

31. Maka dilihat Allah akan tiap-tiap sesuatu yang dijadikannya itu, sesungguhnya amat baiklah adanya. Setelah petang dan pagi, maka itulah hari yang ke enam.”

Ini adalah gambaran selesainya penciptaan  alam.  Dalam gambaran itu pengarang menyebutkan segala makhluk yang hidup yang tidak disebutkan sebelumnya,    dan mengingatkan  kepada  bahan makanan yang bermacam-macam yang diperuntukkan bagi manusia dan binatang.

Kesalahannya, sebagai yang telah kita lihat, adalah dalam menempatkan  munculnya  binatang-binatang  darat sesudah burung-burung. Tetapi munculnya manusia di atas bumi   di  tempatkan  secara  benar  sesudah  munculnya makhluk-makhluk hidup yang lain.

Riwayat  penciptaan  alam  selesai  dengan  tiga   ayat pertama dari fasal II.

1. “Demikianlah sudah dijadikan langit dan bumi serta  dengan segala isinya.

2. Maka pada hari yang ke tujuh setelah sudah disampaikan Allah pekerjaannya yang telah diperbuatnya itu, maka berhentilah ia pada hari yang ke tujuh itu      dari pekerjaannya, yang telah diperbuatnya.

3. Maka diberkati Allah akan hari yang ke tujuh itu serta disucikannya karena dalamnya ia berhenti dari pekerjaannya, yang telah diperbuatnya, akan  menyempurnakan dia.

4. Maka demikianlah asalnya langit dan bumi pada masa itu dijadikan, tatkala diperbuat Tuhan Allah akan langit dan bumi. “

A yat mengenai hari ketujuh ini memerlukan komentar:

Pertama mengenai arti kata-kata. Teks  tersebut  adalah terjemahan  dari  Lembaga Bibel Yerusalem. Ayat pertama berbunyi: “Demikianlah sudah dijadikan langit dan  bumi serta  dengan  segala isinya.” Perkataan terakhir dalam bahasa Perancis terjemahan Lembaga Al  Kitab  Yerusalem berbunyi  “avec toute leur armee,’ yang artinya, dengan segala bala tentaranya.

Ayat kedua mengandung kata, berhentilah ia daripada pekerjaannya. Yang dimaksudkan adalah beristirahatlah, sebagai terjemahan Ibrani “chabbat.” Dan  sampai  hari ini, hari Sabtu merupakan hari istirahat bagi orang Yahudi.

Penulis  teks  ini  membagi  waktu penciptaan alam  dalam hari-hari yang disamakan dengan hari-hari seminggu yang  biasa  serta menekankan istirahat hari Sabtu yang merekarasa harus dipertahankan kepada pengikut-pengikut  mereka  dengan mengatakan bahwa Tuhanlah yang pertama menghormati hari Sabtu itu. Dengan bertitik tolak dari segi praktis ini, maka riwayat penciptaan  alam disajikan dengan logika keagamaan  yang  semu,  yang  hasil-hasil  penyelidikan ilmiah membuktikannya sebagai khayalan belaka.

Menyelipkan  hari ke tujuh (daripada  hari-hari satu minggu) dalam tahap-tahap penciptaan alam dengan maksud agar para pengikut agama menghormati hari Sabtu seperti yang dilakukan oleh pengarang teks ini, tak dapat dipertahankan secara ilmiah. Pada waktu sekarang, semua orang tahu bahwa terciptanya alam, termasuk  di dalamnya  bumi tempat hidup kita telah terjadi dalam tahap waktu  yang  sangat  panjang,  yang  penyelidikan ilmiah  belum  dapat memastikan walaupun secara “kurang lebih.”

Seandainya riwayat penciptaan alam selesai  pada  malam hari yang ke 6, dan tidak menyebutkan hari ke tujuh atau Sabat waktu Tuhan  beristirahat,  atau  seandainya kita tafsirkan enam hari di Perjanjian Lama itu sebagai enam periode seperti yang  tersebut  dalam  Al  Qur-an, riwayat Sakerdotal  tetap  tak  dapat  diterima karena urutan  periode-periode  tersebut  sangat   kontradiksi dengan dasar-dasar ilmiah yang elementer.

Dengan   begitu   maka   riwayat  Sakerdotal  merupakan konstruksi imaginatif yang lihai yang mempunyai suatu tujuan, dan tujuan itu bukan untuk memberitahukan suatu kebenaran.

Dr. Maurice Bucaille

(La Bible Le Coran Et La Science) Bible, Qur’an, dan Sains Modern

Baca juga:

Posted in: Kajian Iptek