Flu Babi Adalah Salah Satu Alasan Kenapa Babi Diharamkan

Posted on Januari 6, 2010


Seperti kita ketahui dalam bulan-bulan terakhir ini dunia dan para peneliti dikejutkan dengan wabah flu babi (Swine flu) yang telah  melanda Meksiko dan beberapa negara bagian di Amerika Latin. Puluhan ribu orang di duga telah terjangkit virus ini dan ratusan diantaranya berujung kematian.

Virus flu babi yang dilaporkan mulai berjangkit di Meksiko 13 April 2009 lalu bahkan telah menyebar ke AS, Kanada, Skotlandia, Spanyol, Israel dan Korea Selatan, Selandia Baru, Inggris. Selain menewaskan puluhan orang di Meksiko, virus mematikan ini juga telah merenggut belasan nyawa orang di AS di beberapa negara bagian, seperti Kalifornia, Texas, Kansas, Kota New York, dan Ohio dan enam orang di Kanada. Di Skotlandia telah dikonfirmasikan bahwa dua orang yang baru pulang dari Meksiko telah diperiksa positif terserang flu babi di Inggris. Media Australia melaporkan, ada 14 orang warga yang dicurigai menderita gelaja flu di negara bagian Queensland, lima orang di New South Wales, dan dua orang lainnya di Tasmania.

Karena itu organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) segera meningkatkan level kewaspadaan pandemi influenza dari fase tiga ke fase empat dan terus fase ke lima. Dimana ke fase kelima yang ditandai dengan adanya penularan virus influenza dari binatang ke manusia dan dari manusia ke manusia.

Flu babi yang disebabkan oleh virus H1N1tipe A. Beberapa peneliti dari WHO mengatakan, starin virus H1N1 A ini telah mengalami mutasi dari yang semula hanya dari hewan ke manusia, sekarang sudah menular dari manusia ke manusia. Pada tahun 1918, di sapanyol strain H1N1 bergabung dengan H1N5 (virus flu burung) sehingga menjadi virus yang mematikan. Saat itu tercatat telah menewaskan sedikitnya 50 juta orang hingga tahun 1919 dan ini adalah sejarah terburuk manusia dalam epidemi penyakit berbahaya.

Kembali berbicara tentang babi, kenapa babi dapat menghasilkan virus yang sedemikian berbahaya? Yaitu virus yang akhirnya dapat menular dari manusia ke manusia? Kenapa penyakit yang disebabkan virus flu lain seperti flu unggas memiliki tingkat bahaya yang jauh lebih rendah? Kenapa hal itu dapat terjadi hanya pada babi?

Jawabannya cukup sederhana, jika dilihat dari fisiologi babi, babi sebagai sumber flu babi memiliki memang keunikan tersendiri. Babi dengan berbagai sifat genetik uniknya yang membahayakan tersebut tidak hanya dapat terinveksi oleh virus flu babi, tapi juga virus flu yang berasal dari ungas  dan manusia. Saat virus flu dari spesies-spesies yang berbeda menginveksi babi, virus-virus tersebut dapat berkombinasi (bergabung) dan bermutasi dalam tubuh babi sehingga akhirnya muncul virus baru (H1N1 A) yang jauh lebih berbahaya. Lebih jauh karena “keunikan lainya” (akan penulis bahas pada bagian selanjutnya) akhirnya virus varian baru tersebut sangat mudah menjangkiti manusia.

Al Hadits Mengisyaratkan Bahwa Babi Akan Dimusnahkan di Zaman Akhir

Empat belas abad lalu, Nabi kita, Muhammad SAW, mengisyaratkan bahwa babi-babi akan dimusnahkan di Zaman Akhir:

“Imam Mahdi (as) akan datang sebagai hakim adil … ia akan membunuh babi dan membagikan harta benda, tapi karena keberlimpahan mereka tak seorang pun akan menerimanya.” (Al-Qawl al-Mukhtasar fi Alamat al-Mahdi al- Muntadhar, hal. 31)

Hadits ini menunjukkan bahwa akan ada pembunuhan massal babi-babi di masa akhir zaman saat kedatangan Imam Mahdi. Bahkan, negara-negara mungkin harus menempuh jalan pembunuhan massal babi-babi demi mencegah penyebaran flu babi jika hal itu menjadi wabah yang mengancam seluruh dunia. Mesir malahan sudah mulai membunuh babi-babi dalam rangka melindungi diri terhadap penyakit itu. Hadits Nabi kita SAW menyatakan bahwa adalah penting untuk membunuh babi-babi, sumber flu babi, sama seperti pihak berwenang mengeringkan rawa-rawa yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk-nyamuk, yang juga senantiasa menyebarkan penyakit.

Beberapa Alasan Lain Kenapa Babi Diharamkan

Memakan babi menyebarkan cacing trichina

Cacing-cacing trichina yang dicerna melalui daging babi memasuki peredaran darah melalui lambung dan usus dan menyebar ke seluruh tubuh. Cacin trichina terutama mendiami jaringan otot pada daerah rahang, lidah, leher, tenggorokan dan dada. Cacing ini menyebabkan kelumpuhan pada otot-otot gerak mengunyah, berbicara dan menelan. Hal ini juga menimbulkan penyumbatan pembuluh darah balik (vena),meningitis dan infeksi otak. Kasus-kasus parah bahkan dapat berujung pada kematian. Sisi paling berbahaya penyakit ini adalah tidak adanya obat untuk menyembuhkannya. Berjangkitnya wabah cacing trichina telah diamati dari waktu ke waktu di Swedia, Inggris dan Polandia, walaupun sudah dilakukan pengawasan kesehatan hewan.

Patut dicatat, hingga saat ini, generasi babi belum terbebaskan dari cacing-cacing ini. Cacing pita pada babi adalah cacing pita yang bersifat akut, karena berbeda dengan cacing pita pada sapi, cacing pita pada babi  tidak mati sekalipun dipanaskan pada suhu 300 derajat celcius.

Ada kisah menarik tentang cacing pita terdapat pada daging babi ini. Saat mengikuti  acara dialog dengan Gus Dur di Radio KBR 68 Khz Jakarta pada tanggal 7 Maret 2009,

“ Pada suatu saat  seorangg kyai namanya Gus Nusril  mencoba membuka tabir dari masalah babi ini. Beliau mengajak juga Pendeta Franky dan Pendeta dari Jogja untuk riset tersebut. Maka datanglah mereka pada sebuah restoran yang menyediakan menu masakan daging babi. Singkat cerita di ambilah  daging babi yg masih bersih ukuran ± 3 cm. Kemudia di taruh dalam gelas yang berisi Cocacola dan dibiarkan selama 1 hari 1 malam. Setelah melewati waktu tersebut apa yang terjadi? Di dalam gelas berisi Coacola dan daging babi itu keluarlah ribuan cacing pita yang pada teler.  Setelah itu sang pendeta trauma,  sampai-sampai  tidak berani lewat lagi ke Resto yang jualan daging babi.”

Memakan daging babi menyebabkan berbagai penyakit kulit


Zat yang dikenal sebagai “histamin” dan “imtidazol” pada daging babi menyebabkan gatal berlebihan. Zat-zat ini juga membuka jalan bagi penyakit-penyakit kulit menular seperti eksem, dermatitis dan neurodermatitis.  Zat-zat ini juga meningkatkan bahaya terjangkiti bisul, radang usus buntu, penyakit kantung empedu dan infeksi pembuluh darah nadi. Karenanya, para dokter menyarankan penderita penyakit jantung agar menghindari makan babi.

Babi mengandung hormon pertumbuhan dalam jumlah berlebih

Hormon pertumbuhan dalam kadar berlebihan yang tercerna melalui daging babi mengakibatkan pembengkakan dan kelainan bentuk jaringan. Hal itu dapat menimbulkan penimbunan lemak secara tiba-tiba dan berlebihan. Orang yang memakan babi pada umumnya memiliki bahaya lebih besar mengidap kegemukan. Hal itu berkemungkinan mendorong pertumbuhan yang tidak wajar pada tulang hidung, rahang, tangan dan kaki. Hal paling berbahaya mengenai hormon pertumbuhan dalam jumlah berlebih adalah bahwa hal ini membuka jalan bagi munculnya kanker.

Babi mengandung belerang dengan kadar tinggi

Karena babi mengandung belerang dengan kadar tinggi, ketika dimakan maka sejumlah besar belerang diserap tubuh. Jumlah yang berlebihan dapat menyebabkan berbagai penyakit, seperti infeksi persendian ketika belerang menumpuk di dalam tulang rawan, otot dan saraf; pengapuran dan hernia. Ketika babi dimakan secara teratur, jaringan ikat lunak dari babi menggantikan tulang rawan keras di dalam tubuh. Akibatnya, tulang rawan menjadi tidak mampu menopang bobot badan, yang pada akhirnya membawa pada kelainan persendian.

Babi sangatlah berlemak dan mengandung zat-zat beracun

Babi sangatlah berlemak. Ketika dicerna, lemak tersebut memasuki peredaran darah dan menyebabkan pengerasan pembuluh darah nadi, meningkatkan tekanan darah dan serangan jantung (coronary infarct). Selain itu, babi mengandung suatu racun yang dinamakan “Sutoxin.” Kelenjar getah bening dipaksa bekerja lebih keras untuk mengeluarkan racun ini dari tubuh. Hal ini ditandai dengan membengkaknya kelenjar getah bening, khususnya pada anak-anak. Jika penyakit ini berlanjut, semua kelenjar getah bening akan membengkak, suhu badan naik dan rasa sakit mulai terjadi.

Makan daging babi sama dengan makan daging manusia (Kanibalisme)?

Penelitian menunjukkan DNA babi sangat mirip dg manusia (inilah yang penulis maksud “keunikan lainya” dari babi). Karena hasil kloning sel induk babi  selanjutnya dapat juga digunakan  dalam  transplantasi organ manusia.

“Sejumlah ilmuwan Korea Selatan menyatakan telah menemukan cara yang lebih efisien untuk menghasilkan klon babi. Hasil kloning tersebut bisa menghasilkan organ transplantasi yang cocok bagi manusia. Sekelompok ilmuwan Korea Selatan tersebut menyatakan, kloning tersebut menggunakan sel induk yang diekstraksi dari sumsum tulang babi untuk menghasilkan klon embrio. Keberhasilan ini merupakan lompatan tinggi sukses dari penelitian tentang sel induk. Para peneliti di bidang kedokteran ini mencoba membuat klon berukuran lebih kecil daripada ukuran normal babi dengan bobot 60-80 kilogram (132-176 pon) di usia dewasanya, agar organ dalam tubuh babi tersebut ukurannya sama besar dengan ukuran organ dalam tubuh manusia”

Mengingat kemiripan struktur gen antara babi dan tersebut tak dapat disangkal lagi bahwa memakan daging babi adalah layaknya seperti memakan daging manusia (kanibalisme).

Ini hanyalah secuil bagian hikmah di balik pengharaman Allah memakan babi. Allah sekali lagi telah  menunjukkan kepada kita hikmah pengharaman ini dengan menciptakan flu babi di Zaman Akhir. Bagi orang beriman yang tulus, sekalipun tidak memahami mengapa Allah mengharamkan hal apa pun, kewajiban utamanya adalah menjaga batas yang telah ditetapkan-Nya. Namun dengan adanya wabah baru-baru ini Allah memberitahukan kepada kaum beriman satu bagian lagi dari hikmah itu.

Terakhir… sepertinya umat-umat agama lain sendiri sudah tahu sedikit banyak mengenai alasan kenapa babi itu diharamkan. Lalu muncul pertanyaan bagi kita. Kalau sudah tahu haram/tidak baik, kenapa mereka tetap saja memakan babi?  Jawabannya…. mungkin karena dengan menghentikan mengkonsumsi babi tersebut secara tidak langsung mereka tentu akan mengakui kebenaran Islam. Atau dengan kata lain… keengganan untuk tidak memakan babi lebih hanya karena perwujudan penyangkalan akan koreksi yang dilakukan Islam terhadap penyimpangan keyakinan/iman mereka.

Baca juga:

Posted in: Kajian Iptek