Mengapa Islam Bersikap Keras dalam Masalah Bid’ah?

Posted on Desember 19, 2009


Bid’ah adalah suatu cara beragama yang dibuat-buat,” yang tidak mempunyai dasar dan landasan, baik dari Al-Qur’an, sunnah Nabi Saw, ijma’, qiyas, maupun mslahat mursalahm dan tidak juga dari salah satu dalil yang dipakai oeh para fuqaha.

Sabda Rasulullah saw. “ Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah Kitabullah dan sebaik-baik jalan hidup ialah jalan hidup Muhammad, sedangkan seburuk-buruk urusan agama ialah yang diadadakan. Tiap-tipa yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan tiap kesesatan (menjurus) ke neraka.” (HR Muslim)

Dalam kesempatan lain Rasulullah menjelaskan, “Siapa yang menciptakan hal baru dalam urusan (ajaran agama) kita, yang bukan bagian darinya, maka perbuatan itu tertolak.” (HR Bukhari Muslim)

Mengapa Islam bersikap keras dalam masalah bid’ah, menilainya sebagai kesasatan, dan pelakukanya diancam akan dimasukkan ke neraka, serta Nabi saw memberikan peringatan yang amat keras dalam masalah ini?

Pembuat dan Pelaku Bid’ah Mengangkat Dirinya Sebagai Pembuat Syariat Baru dan Sekutu bagi Allah  Swt

Islam memberikan peringatan keras terhadap masalah bid’ah ini karena si pembuat bid’ah bertindak seakan-akan ingin mengkoreksi Rabbnya dan memberikan kesan kepada kita atau kepada dirinya bahwa dia mengetahui apa yang tidak diketahui oleh Allah Swt. Seakan-akan dia berkata, “Tuhanku, apa yang Engkau telah syariahkan kepada kami itu tidak cukup. Oeh karena itu, kami menambah praktek ibadah baru atas apa yang telah engkau syari’atkan itu. “Dengan demikian, ia telah menetapkan dirinya hak untuk menciptakan syariat baru. Padahal, hak membuat syariat adalah milik Allah Swt semata. Oleh karena itu Allah berfirman,

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?…(Qs Asy Syuura: 21)

Tindakan membuat syariat baru tidak diizinkan oleh Allah Swt adalah tindakan yang amat berbahaya. Karena, dalam kasus seperti itu, si  pelakunya berarti telah mengangkat dirinya sebagai sekutu bagi Allah Swt dan memberikan hak kepada dirinya untuk menciptakan syariat baru dan berkreasi dalam agama, serta membuat tambahan dalam agama Allah Swt. Hal ini dapat menimbulkan  bahaya yang amat besar dan dapat menjerumuskan seorang menjadi musyrik kepada Allah Swt. Tindakan seperti inilah yang telah merusak agama-agama langit sebelum Islam.

Apa yang telah terjadi pada agama-agama langit sebelum Islam? Yaitu, terjadi bid’ah secara besar-besaran dan para pemeluk agama itu meberikan kepada mereka hak untuk menambahkan hal-hal baru dalam agama yang mereka, yang secara khusus dipegang oleh para pendeta dan orang-orang alim mereka hingga agama yang mereka anut bentuknya berubah sama sekali dari agama aslinya. Inilah yang dikecam oleh Islam dan diabadikan oleh Al-Quir’an dalam firman Allah Swt,

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” ( Qs At Taubah: 31)

Pembuat Bid’ah Memandang Agama Tidak Lengkap dan Bertujuan Melengkapinya

Dari segi lain, orang yang mengrjakan bid’ah seakan-akan menganggap agama tidak lengkap, kemudian ia ingin menyempurnakan kekurangan dan ketidak sempurnaanya. Padahal, Allah Swt telah menyempurnakan agama secara lengkap, sebagai bentuk kesempurnaan nikmat yang diberikan-Nya kepada kita. Dia berfirman.

“…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (Qs Al Maa’idah : 3)

Oleh karena itu, Ibnu Majisyun meriwayatkan dari Imam Malik bahwa dia berkata, “Siapa yang telah membuat praktek bid’ah dalam agama Islam dan ia melihatnya sebagai suatu tindakan yang baik, berarti ia telah menuduh Nabi Muhammad Saw telah menghianati risalah Karena Allh Swt berfirman, Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu.’ Jika saat itu agama Islam belum lengkap niscaya saat ini tidak ada agama Islam itu.”

Membuat bid’ah dalam agama Islam secara tidak langsung berarti telah menuduh Nabi Saw berkhianat dan tidak menyampaikan risalah agama secara lengkap. Allah Swt berfirman,

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya…” (Qs Al Maa’idah: 67)

Agama Islam telah sempurna dan tidak membutuhkan tambahan lagi. Karena, sesuatu yang sudah sempurna tidak menerima adanya penambahan sama sekali. Hanya  suatu yang tidak sempurnalah yang dapat menerima penambahan dan penyempurnaan baginya.

Oleh karena itu, para sahabat dan para imam setelah mereka, amat memerangi praktek bid’ah karena hal itu berarti menuduh agama Islam tidak lengkap, dan menuduh Rasulullah Saw telah berbuat khianat.

Bid’ah dalam Agama Membuat Manusia Tidak Kreatif dalam Urusan Keduniaan

Dari segi lain, jika manusia mencurahkan energi dan perhatiannya untuk untuk melakukan perbuatan-perbuatan bid’ah yang ditambahkan ke dalam agama, niscaya mereka tidak lagi mempunyai energi untuk berusaha di dunia dan berkreasi dalam urusan-urusan duniawi.

Bid’ah seperti yang telah disinyalir sbelumnya, adalah “jalan-jalan beragama yang dibuat-buat”. Pada dasarnya, manusia harus mengembangkan kerativitasnya dalam bidang keduniawian, namun karena manusia telah mencurahkan seluruh kreatifitasnya dalam urusan-urusan agama maka ia tidak lagi dapat berkreasi dalam urusan-urusan duniwi.

Oleh karena itu, generasi Islam yang pertama banyak menelurkan kreatifitas dalam bidang-bidang duniawi dan mempelopori banyak hal yang pernah dilakukan sebelumnya. Sehingga, mereka dapat membangun peradaban yang besar dan tangguh yang menyatukan antara ilmu pengetahuan dan keimanan, antara agama dan dunia. Ilmu-ilmu Islam yang dihasilkan pada masa itu. Seperti ilmu alam, matematika, kedokteran, astronomi, dan sebagainya menjadi ilmu-ilmu yang dipelajari di seluruh dunia dan masyarakat dunia belajar tentang ilmu-ilmu itu dari kaum muslimin.

Mayoritas motif yang melatar belakangi kaum muslimin generasi pertama untuk menggeluti dan mengembangkan ilmu-ilmu tadi adalah motif agama. Apakah anda mengetahui mengapa al-Khawarizmi menciptakan ilmu aljabar? Ia menelurkan ilmu itu untuk menyelesaikan masalah-masalah tertentu dalam bidang wasiat dan warisan. Tentang warisan, juga wasiat, sebagian darinya memerlukan  hitung-hitungan matematika. Oleh karena itu, Al-Khawarizmi menulis bukunya yang berbicara tentang ilmu aljabar dalam dua juz; juz pertama tentang wasiat da warisan, juz kedua tentang aljabar secara umum.

Pada masa generasi pertama Islam, ilmu pengetahuan berkaitan erat dengan agama tidak ada dikotomi diantara keduanya. Bahkan dikotomi antara ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan umum itu sendiri adalah bid’ah yang sebelumnya sama sekali tidak ada dalam wacana keilmuwan Islam. Karena, Islam tidak bersifat terpisah dari dunia.

Yang ingin kita tekankan adalah, kaum muslimin pada masa keemasan Islam, dalam bidang agama, mereka semata berpegang pada nash dan Sunnah, sedangkan dalam bidang-bidang kehidupan, mereka berkreasi, menciptakan hal-hal baru, dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan penemuan yang telah ada. Sementara pada masa kemunduran Islam, yang telah terjadi adalah sebaliknya. Orang banyak sekali menciptakan hal-hal baru dalam bidang agama, sementara beku dan statis dalam bidang-bidang keduniawian.

Dengan demikian, pengingkaran perbuatan bid’ah dalam bidang agama bermakna menyiapkan energi manusia untuk berkreasi dan mengembangkan urusan-urusan keduniaan.

Bid’ah dalam Agama Memecah Belah dan Menghancurkan Persatuan Umat

Berpegangteguh pada Sunnah akan menyatukan umat sehingga mmebuat mereka menjadi satu barisan kokoh di bawah bimbingan kebenaran yang telah diajarkan Rasulullah Saw. Karena.  Sunnah hanya satu, sedangkan bid’ah tidak terbilang banyaknya. Kebenaran hanya satu, sedangkan kabatilan beragam warna dan bentuknya. Jalan Allah Swt hnaya satu, sedangkan jalan-jalan setan amat banyak. Dalam hadits riwayat Ibnu Mas’ud ra, ia berkata “Suatu hari Rasulullah Saw membuat garis lurus di hadapan kami, kemudian beliau bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah.’ Setelah itu beliau menggaris beberapa garis di samping kiri dan kanan garis yang pertama tadi, dan bersabda, ‘Jalan-jalan ini (selain jalan Allah), masing-masing didukung oleh setan yang menggoda manusia untuk mengikuti jalan itu. ‘Selanjutnya, beliau membaca ayat,

“ Dan, bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia…” (Qs al-An’aam : 153)

Oleh karena itu, saat umat secara konsekuen mengikuti Sunnah maka saat itu mereka bersatu padu. Sementara, saat timbul beragam sekte dan mazhab maka umat tepecah belah menjadi lebih dari tujuh puluh golongan. Bahkan masing-masing golongan itu pada gilirannya kembali tepecah-pecah menjadi kelompok-kelompok kecil. Dan, masing-masing golongan dan kelompok itu meyakini bahwa mereka  sajalah penganut agama Islam yang sebenarnya. Selanjutnya, masing-masing golongan itu menciptakan bid’ah yang sedemikian banyak. Sebagian bid’ah itu dalam bidang akidah kadang-kadang ada yang sampai pada kekafiran. Ada kelompok yang menganut antropomorfisme yang menyerupakan wujud Allah dengan makhluk-Nya, mereka tekenal sebagai kelompok Musyabbihah dan Mujassimah. Diantara mereka ada yang mengingkari kodrat Allah Swt, meskipun mereka tidak mengingkari ilmu-Nya. Diantara mereka ada yang mengakafirkan kaum muslimin dan menghalalkan darah mereka, seperti kalangan Khawarij, meskipun ketekunan ibadah mereka amat mengagumkan.

Setelah itu, timbul kalangan tasawuf yang sebagaian mereka mengungkap hal-hal yang sama sekali tidak dilandasi syariat, seperti berpedoman hanya kepada ‘rasa’ dan intuisi, bukan kepad syariat. Menurut mereka, orang tidak perlu berpegang pada apa yang difirmankan Rabbnya, namun yang terpenting adalah pedoman pada apa yang dikatakan hatinya. Salah seorang dari mereka dengan bangga berkata, “Hatiku berkata kepadaku berdasarkan informasi dari Tuhanku.’ Karena ia mengambil informasi langsung dari “atas”.

Dari mereka ada yang berkata, “Kalian mengambil ilmu kalian dari orang yang telah mati yang mendapatkannya dari orang yang telah mati pula, sementara kami mengambil ilmu kami dari Zat Yang Maha Hidup, Yang tidak mati!”

Diantara istilah yang dikembangkan oleh mereka adalah hakikat dan syariat. Mereka berkata “Orang yang melihat manusia dengan mata syariat, niscaya akan membenci mereka, sedangkan orang yang meihat manusia dengan mata hakikat, niscaya akan memberi uzur (sikap memaklumi) kepada mereka. Orang yang berbuat perbuatan zalim/dosa seperti zina, mabuk-mabukan, pencurian, pembunuhan atau yang lainnya; mereka itu, jika anda lihat mereka dengan mata syariat niscaya anad akan membnci mereka karena syariat melarang semua itu. Namun jika anda melihat dengan mata hakikat, niscaya anda akan memberikan uzur kepada mereka. Karena meskipun mereka tidak menjalankan perintah Allah Swt, namun pada hakikatnya mereka menjalankan iradah ‘kehendak’ Allah karena Allah lah yang menghendaki segala sesuatu. Allah menggerakkan manusia sesuai dengan kehendak-Nya, lantas apakah anda ingin turut campur dalam kekuasaan Allah Swt? Biarkanlah kekuasaan berjalan ditangan raja, sementara manusia lain, biarkanlah mereka hidup sesuai dengan kehendak Sang Khalik.

Terdengar begitu indah…, namun dengan keyakinan seperti itu, tumbuh suburlah sikap pasif dalam menghadapi kerusakan dan penindasan, dengan demikian juga dengan pendidikan. Hingga dalam bidang yang terakhir ini, tasawuf mencabut kepribadian manusia, yaitu seperti postulat tasawuf  “sikap sorang murid di hadapan syeikhnya adalah seperti mayat ditangan orang yang memandikannya”, “siapa yang bertanya kepada syeikhnya: mengapa? Maka, sang murid itu tidak akan ‘sampai’ kepada tujuanya”, dan seterusnya.

Berapa banyak sekte-sekte tasawuf (tarekat) seperti ini telah timbul dikolong langit?  Na’uzubillahi mindzalik!

Jika umat Islam kita biarkan mengikuti dan menjalankan praktek bid’ah, niscaya mereka tidak akan bersatu dalam satu shaf. Umat Islam hanya dapat bersatu jika mereka berdiri di belakang Rasulullah Saw dan mengkuti kitab Allah yang benar dan Sunnah Rasul-Nya.

Dr. Yusuf  Qardhawi (As Sunnah wal Bid’ah)

(Sumber : www.gemainsani.co.id)

Posted in: Muslim Meralat