Jenis-jenis Manusia

Posted on November 29, 2010


Ulama kenamaan Imam Ghazali rahimahullah pernah menjelaskan, manusia itu ada empat jenis. Pertama, manusia yang yadri wa yadri annahu yadri. Maksudnya, orang yang tahu dan dia tahu kalau dirinya itu tahu. Ini adalah jenis manusia yang paling baik. Jenis manusia yang memiliki kemapanan ilmu, dan dia tahu kalau dirinya itu berilmum, maka ia menggunakan ilmunya. Ia berusaha semaksimal mungkin agar ilmunya benar-benar bermanfaat bagi dirinya, orang sekitarnya, dan bahkan bagi seluruh umat manusia. Dalam bahasa pakar  manajemen global, manusia jenis ini adalah manusia yang kreatif, selalu belajar, dan tidak berhenti berinovasi.

Manusia jenis ini adalah manusia unggul. Dalam bahasa Syaikh Muhammad Ahmad Al Rasyid, manusia jenis  inilah yang yang mampu merubah dunia kearah yang lebih baik, mereka layak menjadi pelopor “shina’atul hayah” atau “lifemaking”. Jumlah manusia jenis ini tidak banyak, tapi  keberadaan mereka menjadi nyawa bagi kehidupan umat manusia.

Konon, kemajuan Amerika Serikat dalam “bidang-bidang tertentu” ditentukan oleh pikiran-pikiran orang-orang pilihan, tak lebih dari lima puluh ribu orang. Mereka bukan orang yang suka mabuk-mabukan , dan juga bukan yang hidup glamor di Hollywood.

Mereka adalah para pemikir, para dosen dan peneliti, para pengamat politik dan ekonomi yang kredibel, para manajer perusahaan besar dan bank yang berpengaruh di dunia, para wakil komunikasi dalam dan luar negeri, para anggota dan mantan anggota kongres, tokoh-tokoh hakim dan pengacara, unsur-unsur mafia, para kepala sindikat, orang-orang di Gedung Putih sepuluh orang di Citibank dan Charter bank, sembilan orang di pusat Aramco, delapan orang di lobi-lobi bank dunia, tujuh orang pimpinan redaksi, dan enam orang ketua organisasi Yahudi  dan Fremansori. Selebihnya jutaan orang lainnya hidup di pinggir pentas peradaban Amerika.

Hal yang sama juga terjadi di Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, China, Jepang, India dan juga Indonesia.

Jenis kedua adalah manusia yang la yadri wa yadri annahu la yadri, manusia yang tidak tahu, tidak berlimu, dan dia menyadari kalau dirinya tidak berilmu. Menurut Imam Ghazali, jenis manusia ini masih tergolong baik. Sebab, ini jenis manusia yang bisa menyadari kekurangannnya. Ia bisa mengintropeksi diriya dan bisa menempatkan dirinya di tempat yang sepantasnya. Karena dia tahu dirinya tidak berilmu, maka dia belajar. Dengan belajar itu, sangat diharapkan suatu saat dia bisa berilmu dan tahu kalau dirinya berilmu. Meskipun tergolong baik, tapi ini bukan tipe manusia yang bisa membuat perubahan bagi lingkungannya. Sebab, tanpa ilmu pengetahuan yang cukup, maka manusia tidak bisa berinovasi. Baiknya, tipe manusia ini dengan kesadaran dan akal sehatnya tidak akan menghalangi sebuah proses perubahan kearah yang lebih baik. Dan manusia jenis kedua ini, dia tidak akan berani nekat memegang amanah yang ia rasa tidak memiliki kapasitas untuk memegangnya. Sebab ia tahu siapa dirinya.

Jenis ketiga, adalah manusia yang yadri wa yaladri annahu yadri, yaitu manusia yang tahu, tapi tidak tahu kalau dirinya tahu. Manusia yang memiliki ilmu dan kecakapan, tapi dia tidak pernah menyadari kalau dirinya memiliki ilmu dan kecakapan. Manusia jenis ini sering kita jumpai di sekeliling kita. Terkadang kita menemukan orang yang sebenarnya memiliki potensi yang luar biasa, tapi ia tidak tahu kalau memiliki potensi.

Ada orang yang sudah puluhan tahun belajar di pesantren. Puluhan kitab telah ia khatamkan, tapi saat ia kembali ke tengah-tengah masyarakat, dia tidak mencerminkan sebagai orang yang berilmu. Apa yang dia pelajari seolah tidak seolah tidak ada bekasnya. Ia sama sekali tidak mau ikut andil memberantas kejahiliahan yang ada di sekelilingnya. Bahkan, ia diam saja ketika ada yang mengajarkan hal-hal yang sesat dan menyesatkan.

Manusia jenis ini menurut Imam Ghazali, perlu disadarkan. Karena ia telah menyia-nyiakan karunia yang diberikan Allah kepadanya. Padahal, karunia itu jika ia manfaatkan sunguh-sungguh akan menjadi sebab mengalirnya kebaikan bagi banyak orang.

Di negari ini, sering kali kita menemukan orang yang telah puluhan tahun belajar di dalam maupun luar negeri, ia bahkan menyandang gelar ilmiah paling tinggi, tapi ilmu yang ia pelajari tidak sama sekali ia amalkan. Ia bahkan bekerja di bidang yang bahkan kurang ia kuasai. Akibatnya bidang yang sebenarnya memerlukan spesialisasinya dinegeri ini tidak maju dan bidang yang ia garap karena bukan spesialisasi terbaiknya juga kurang maju. Banyak alasan yang menyebabkan fenomena ini terjadi, tapi tetap saja kondisi ini perlu dikoreksi, demi kemajuan umat dan negeri ini.

Jenis keempat, dan ini menurut Imam Ghazali, adalah jenis manusia yang paling buruk, yaitu manusia yang  la yadri wa la yadri annahu la yadri, yaitu orang yang tidak tahu tapi dia tidak tahu kalau dirinya tidak tahu. Ini jenis manusia yang selalu merasa mengerti, selalu merasa tahu, selalu merasa memiliki ilmu, padahal ia tidak tahu apa-apa. Repotnya manusia jenis seperti ini susah disadarkan, kalau diingatkan ia akan membantah sebaba ia merasa tahu atau merasa lebih tahu. Jenis manusia seperti ini, paling susah dicari kebaikannya.

Repotnya lagi dinegeri, jenis manusia seperti ini terlalu banyak bergentayangan. Pemilu wakil rakyat beberapa waktu yang lau adalah buktinya. Sejatinya menjadi wakil rakyat tidaklah mudah. Karena wakil rakyat jugalah yang membuat undang-undang misalnya harus cukup memiliki bekal ilmu hukum dan perundang-undangan. Namun, terbukti ratusan ribu orang merasa berhak menjadi wakil rakyat. Bahkan ada yang tidak pernah lulus sekolah dari manapun, hanya bisa baca tulis, ia mencalonkan jadi wakil rakyat. Ijazah yang menjadi syarat administrasi dimanipulasi. Dan ia merasa bisa menjadi wakil rakyat.

Seorang penulis pemula, ada yang datang kepada saya. Dia bertanya kepada saya adakah memiliki buku tentang Palestina? Saya balik bertanya buku tentang Palestina yang seperti apa? Dia menginginkan buku tentang Palestina yang membahas tentang geografisnya, keadaan alam dan cuacanya.

Saya lalu menjawab bahwa saya mempunyai buku-buku Palestina, tapi dalam bahasa Arab. Dia mengatakan kalau berbahasa Arab, maka tidak akan bisa membacanya. Saya lalu bertanya. “Kok mencari buku Palestina, memangnya mau menulis tentang apanya?”

Dengan semangat berkobar, ia menjelaskan akaan membuat novel tantang Palestina. Dia ingin membangkitkan semangat juang membela Palestina. Sayapun tersenyum, saya kagum pada semangatnya yang berapi-api. Lalu saya bertanya asal-asalan saja, saya bertanya tentang tokoh yang sering jadi pemberitaan selama ini tentang Palestina. “Kenal Ahmad Yasin?” Siapa itu Ahmad Yasin?”

Dia menjawab sama sekali tidak kenal. Saya katakan bagaimana kamu mau menulis tentang Palestina kalau tokoh seterkenal Ahmad Yasin saja kamu tidak kenal, bahkan kamu belum pernah mendengarnya.

Penulis pemula ini tetap ngotot ingin menulis tentang Palestina. Karena saya sangat mengargainya, saya ingin dia matang jadi penulis yang baik, maka saya memberitahu apa yang seharusnya ia lakukan. Ia harus banyak membaca dan mengadakan riset yang serius. Dia sebelumnya pernah cerita ada penerbit yang memintanya menulis tentang Palestina, maka dia mengejar itu. Dan saya tahu dia kurang suka membaca dan pengetahuannya  tentang Palestina baru sebatas Palestina sekarang masih perang sama Israel. Maka saya katakan, “Kira-kira bagaimana kalau ada penulis mau menulis tentang Islam, lalu saya tanya kenal tidak kamu dengan Muhammad, dia menjawab tidak kena sama sekali. Dan dia ngotot mau menulis kesejatian Islam, padahal dia sama sekali tidak kenal Muhammad Saw sebagai pembawa Rialah Islam?”

Penulis pemula yang masih sangat muda itu, lalu diam seribu bahasa. Saya ingin dia tidak termasuk golongan jenis manusia yang keempat, manusia yang tidak tahu tapi dia tidak tahu kalau dirinya tidak tahu. Atau manusia yang tidak tahu tetapi selalu merasa tahu. Dan dewasa ini banyak sekali jenis manusia tipe ini yang menulis tentang Islam, tapi dia tidak tahu Islam. Bahkan ada yang berapi-api membela Islam, bahkan dengan menyitir puluhan ayat. Padahal na’uzubillah pemahamannya akan Al Qur’an-menurut sebuah hadist-tidaklah melewati tenggorokannya. Semoga kita terhindar dari sifat-sifat seperti itu. Amin!

Habiburahhman El Shiraz

About these ads
Posted in: Kebun Hikmah